Wednesday, January 26, 2011

Teknologi Informasi Komunikasi

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.

Daftar isi

  • 1 Sejarah
  • 2 Penerapan TIK dalam Pendidikan di Indonesia
    • 2.1 Buku Elektronik
    • 2.2 E-learning
  • 3 Referensi

Sejarah

Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957. Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

Penerapan TIK dalam Pendidikan di Indonesia

Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication + informatics (telekomunikasi + informatika) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini adalah wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.

Buku Elektronik

Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis e-book paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik yang ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping CD atau compact disk (kapasitas sekitar 700MB), DVD atau digital versatile disk (kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB) maupun flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia sampai 16 GB). Bentuk yang lebih kompleks dan memerlukan rancangan yang lebih cermat misalnya pada Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam format multimedia. Format multimedia memungkinkan e-book menyediakan tidak saja informasi tertulis tetapi juga suara, gambar, movie dan unsur multimedia lainnya. Penjelasan tentang satu jenis musik misalnya, dapat disertai dengan cuplikan suara jenis musik tersebut sehingga pengguna dapat dengan jelas memahami apa yang dimaksud oleh penyaji.

E-learning

Beragam definisi dapat ditemukan untuk e-learning. Victoria L. Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi. Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning. Definisi yang lebih luas dikemukakan pada working paper SEAMOLEC, yakni e-learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik. Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-learning. Meskipun radio dan televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet. Internet-based learning atau web-based learning dalam bentuk paling sederhana adalah website yang dimanfaatkan untuk menyajikan materi-materi pembelajaran. Cara ini memungkinkan pembelajar mengakses sumber belajar yang disediakan oleh narasumber atau fasilitator kapanpun dikehendaki. Bila diperlukan dapat pula disediakan mailing list khusus untuk situs pembelajaran tersebut yang berfungsi sebagai forum diskusi. Fasilitas e-learning yang lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola pembelajaran atau LMS (learning management system). LMS mutakhir berjalan berbasis teknologi internet sehingga dapat diakses dari manapun selama tersedia akses ke internet. Fasilitas yang disediakan meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar). ‘Kehadiran’ pihak-pihak yang terlibat diwakili oleh e-mail, kanal chatting, atau melalui video conference.

Sumber

Sunday, January 16, 2011

What is Pee Wee Gaskins?

from left to right: @aldykumis @pwgdochi @rezaomo @choasansan @ayimahardhika
Vocal: @choasansan
THE STORY SO FAR:
In the two years since it was formed (Mid 2007), Pee Wee Gaskins, a pop-punk group based in Jakarta, has rapidly leapt from the indie scene to the mainstream.
With a single full-length album under its belt, the band has been featured in numerous magazines, including Hai, Rolling Stone Indonesia and Trax, as well as appearing on TV shows like O Channel’s Demo and MTV Indonesia.
The band took its name from Donald “Pee Wee” Gaskins, who gained notoriety in 1991 for being the first white man in more than half a century to be executed in the United States for killing a black man. In an attempt to stay out of the electric chair, Gaskins confessed to more than 100 murders, though he never revealed the locations of the bodies.
Bass: @pwgdochi
Pee Wee Gaskins began as a solo project for the vocalist, bassist and main songwriter, Dochi Sadega, while he was still playing guitar for metal band The Side Project.
“Two years ago I had an acoustic song called ‘Here Up on the Attic,’ which I had written for a friend, who eventually became my girlfriend,” Dochi said.
“She said, ‘Hey this sounds nice — why don’t you write more stuff?’ So I began looking for band members [after quitting The Side Project],” he said.
Dochi recruited guitarist Sansan first. The two had musician friends in common and had, for a brief time, been in the same band: Killing Me Inside, with Dochi on guitar and Sansan on vocals.
The first thing they did was pick a name.
“One day we were chatting on the Internet trying to come up with a band name, and Sansan mentioned wanting to name it ‘Serial Killer,’?” Dochi said.
“We wanted a scary name, but the music we were going to play wasn’t exactly scary, so when we Googled ‘serial killer’ and the name Pee Wee Gaskins came up, it felt like the perfect amalgamation of our pop tendencies and something that was inherently terrifying,” Dochi said.
Drum: @aldykumis
The pair then recruited musicians Aldy “Mustache” on drums, Ai on guitar and Omo on keyboard and synthesizers.
By late 2007, the newly formed band was performing at a lot of low or nonpaying events. Before long, it was headlining these shows, as well as performing as guest stars at high-school bazaars, where it built its fan base.
By 2008, Pee Wee Gaskins was thriving, with appearances on TV shows such as RCTI’s “Dashyat” and SCTV’s “Playlist.”
It was also featured on the soundtrack for the movie “Married by Accident,” which starred Nikita Willy.
Synthesizer: @rezaomo
In April 2008, the band released its debut EP, “Stories From Our High School Years,” through the independent record label Kurd Records. The 2,000 copies of the EP quickly sold out.
Dochi said: “We used the Internet to promote it, and sold it hand-to-hand. We did the distribution ourselves. Total DIY!”
Between 2008 and 2009, Pee Wee Gaskins really took off. Fans, calling themselves Party Dorks, helped promote the band through the Internet and by dropping flyers. The Party Dorks were so spread out across Indonesia that there were local divisions such as Party Dorks Bali and Party Dorks Semarang.
Guitar: @ayimahardhika
But the band’s quick rise to the top was also met with disdain by other groups of music fans, who began calling themselves the Anti Pee Wee Gaskins, or APWG for short. Like the Party Dorks, the APWG community also grew quickly, with young people building Facebook communities where they could chat about how much they hated the band. There were also numerous subgroups, including APWG Makassar, APWG Surabaya and so on.
APWG has never officially stated its intentions, nor the reason for its hatred. Online discussions do little to illuminate the motivations of members. Juan, an APWG supporter, simply wrote on the APWG discussion board on Facebook that he “hates the band” because they are “homos, arrogant, ungrateful of their fans, copycats.”
At a show in Surabaya, a group of APWG members came to a Pee Gaskins show simply to collectively raise their middle finger throughout the band’s set.
So much negativity would bother most bands, but Dochi seems to take it all in stride. Facing the Surabaya audience of thousands, with hundreds of them flipping him the bird, he said from the stage, “You guys are still young, don’t hesitate to voice your opinion about us. We have come to make friends and have fun.”
Early this year, the band released its first full-length album, “The Sophomore,” which was released through a larger independent label called Variant Records.
The album has reportedly sold more than 4,000 copies in two months. A fact that makes Dochi happy, but not quite content.
“If you are feeling satisfied, you are bound to rest on your laurels. Then again, never feeling satisfied makes us complainers. Simply put, we are always trying to push ourselves as far as we can.”
As the story goes, the band is now preparing for their 3rd release on its senior year, Ad Astra Per Aspera, “to the stars through difficulties” in Latin.
WHY YOU SHOULD KNOW ‘EM?
Pee Wee Gaskins consist of 5 lads arising from south jakarta’s pop punk scene with heartpumping teenage hormons ready to rock the stage and doing all they can to have fun. Pee Wee Gaskins is here to have a good time, come and join them.